Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Kak Herman Berpulang, Pengabdi Pramuka Seumur Hidup Diduga Tewas Ditabrak Truk Misterius

posmaba.com
10 Jun 2026, 17:38 WIB Last Updated 2026-06-11T11:40:35Z


POSMABA.COM - Kabar duka menyelimuti keluarga besar Gerakan Pramuka di Tangerang Raya hingga Provinsi Banten. Sosok yang dikenal luas sebagai pegiat kepramukaan, Herman Sulistyo (71) atau yang akrab disapa Kak Herman, meninggal dunia setelah diduga menjadi korban tabrak lari di Jalan Raya Serang KM 11, tepatnya di sekitar Jembatan Bitung, Desa Bitung Jaya, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, pada Minggu (07/06/2026) dini hari.


Kepergian Kak Herman meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan seluruh insan Pramuka. Selama puluhan tahun, almarhum dikenal sebagai pribadi yang mendedikasikan hidupnya untuk dunia kepramukaan serta menjadi teladan bagi generasi muda di Tangerang dan Banten.


Peristiwa yang merenggut nyawa tokoh Pramuka tersebut kini masih dalam penyelidikan Satuan Lalu Lintas Polresta Tangerang. Aparat kepolisian terus melakukan upaya pencarian terhadap kendaraan yang diduga terlibat dalam kecelakaan tragis tersebut.


Kepala Satuan Lalu Lintas Polresta Tangerang, , menjelaskan bahwa tim Unit Gakkum telah melakukan berbagai langkah penyelidikan, mulai dari olah tempat kejadian perkara hingga pengumpulan alat bukti.


“Perkara ini sedang dalam proses penanganan. Kami masih melakukan penelusuran melalui rekaman CCTV di sekitar lokasi serta meminta keterangan sejumlah saksi untuk mengidentifikasi kendaraan yang terlibat,” ujar Fery, Senin (08/06/2026).


Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, kecelakaan terjadi sekitar pukul 01.00 WIB. Sebuah truk yang identitas pengemudi maupun kendaraannya belum diketahui diduga menabrak sepeda yang dikendarai korban saat melaju dari arah Bitung menuju Cikupa. Benturan keras yang terjadi mengakibatkan Kak Herman mengalami luka berat dan meninggal dunia di lokasi kejadian.


“Korban telah dievakuasi ke RSUD Balaraja untuk proses visum. Kami juga berkoordinasi dengan Jasa Raharja terkait percepatan pemberian santunan kepada keluarga korban,” tambahnya.


Bagi keluarga besar Pramuka, Kak Herman bukan sekadar anggota organisasi, melainkan simbol pengabdian dan keteladanan. Ia dikenal selalu mengenakan seragam Pramuka lengkap dalam berbagai aktivitas, baik saat menghadiri kegiatan resmi maupun dalam kesehariannya.


Kesetiaannya terhadap dunia kepramukaan juga tercermin dari kebiasaannya menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi ketika menghadiri berbagai kegiatan Pramuka, baik di tingkat lokal maupun nasional. Dedikasi tersebut membuat sosoknya begitu dekat dan dicintai oleh anggota Pramuka lintas generasi.


Banyak yang mengenang almarhum sebagai figur yang sederhana, disiplin, serta tak pernah lelah menanamkan nilai-nilai kejujuran, kepedulian, dan semangat pengabdian kepada masyarakat.


Sebelum dimakamkan, jenazah Kak Herman dishalatkan di Masjid Raya Al-A’zhom Kota Tangerang. Prosesi pelepasan berlangsung khidmat dan dihadiri keluarga, pejabat daerah, tokoh masyarakat, serta anggota Pramuka dari berbagai wilayah di Banten yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir.


Suasana haru kembali menyelimuti pemakaman di TPU Rawa Kucing, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang. Dengan prosesi kepramukaan yang penuh penghormatan, sosok yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri untuk pendidikan karakter generasi muda itu akhirnya dimakamkan.


Di tengah duka yang masih menyelimuti keluarga dan para sahabat, harapan besar disampaikan agar pelaku tabrak lari segera ditemukan sehingga keadilan dapat ditegakkan bagi almarhum yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk membina generasi penerus bangsa.

Iklan

iklan