POSMABA.COM - Sebuah media resmi Iran yang memiliki kedekatan dengan lembaga keamanan nasional menyatakan bahwa negara-negara Teluk Arab tidak dapat sepenuhnya bergantung pada payung keamanan Amerika Serikat. Pernyataan tersebut disampaikan melalui saluran Telegram Nour, yang menyoroti posisi negara-negara Teluk di tengah eskalasi konflik kawasan.
Dalam ulasannya, Nour memperingatkan bahwa kehadiran sistem persenjataan canggih dan pasukan AS di kawasan Teluk Persia bukanlah jaminan mutlak bagi keamanan nasional negara tuan rumah. Saat ini, militer AS diketahui menempatkan pasukannya di sejumlah pangkalan di negara-negara Teluk serta di Yordania.
Sejak awal serangan AS dan Israel pada Sabtu lalu, Iran menegaskan bahwa respons militernya ditujukan pada pangkalan-pangkalan militer dan fasilitas terkait, bukan terhadap negara-negara Teluk secara langsung. Namun, Nour menilai langkah Washington tersebut menunjukkan bahwa kepentingan strategis Amerika Serikat dan Israel lebih diutamakan dibanding stabilitas keamanan negara-negara Arab di kawasan.
Dalam artikel berjudul “Pelajaran Perang dan Masa Depan Keamanan Arab di Teluk Persia”, Nour menyebut bahwa negara-negara Arab yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS berada dalam posisi rentan dan menghadapi risiko keamanan yang tidak kecil. Media itu menyerukan agar negara-negara Arab membangun konsep keamanan berkelanjutan berbasis kepentingan bersama, sehingga tidak terjebak dalam kepentingan strategis pihak asing.
Sementara itu, Kepala Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, menyatakan bahwa Iran telah mempersiapkan diri menghadapi konflik jangka panjang. Dalam unggahannya di platform X pada Senin, ia menegaskan bahwa Iran tidak memulai perang tersebut dan bahwa angkatan bersenjata negaranya hanya bertindak untuk membela diri.
“Iran, tidak seperti Amerika Serikat, telah mempersiapkan diri untuk perang yang panjang,” tulisnya. Ia juga menegaskan bahwa Iran akan mempertahankan diri dan peradabannya yang berusia ribuan tahun, serta menyebut pihak lawan telah melakukan kesalahan perhitungan.
Eskalasi konflik meningkat setelah kampanye militer gabungan AS dan Israel pada akhir pekan dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Sabtu. Peristiwa tersebut memicu serangan balasan Teheran terhadap pangkalan udara AS di kawasan serta gelombang kekerasan lanjutan di berbagai titik.
Menurut laporan Palang Merah, ratusan korban jiwa telah berjatuhan, dengan sedikitnya 555 orang dilaporkan tewas di Iran saja akibat rangkaian serangan tersebut.


