POSMABA.COM - Kantor berita Iran Tasnim News Agency memicu perhatian media internasional setelah merilis laporan yang menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kemungkinan tewas atau mengalami luka parah dalam serangan balasan terbaru di tengah meningkatnya konflik antara Iran dan aliansi Israel–United States. Namun, klaim tersebut hingga kini belum dapat diverifikasi secara independen.
Spekulasi muncul setelah Netanyahu tidak terlihat di publik selama hampir empat hari, sesuatu yang dianggap tidak biasa karena ia biasanya rutin menyampaikan pesan video harian. Sejak saat itu, pernyataan yang dikaitkan dengannya hanya disampaikan dalam bentuk tertulis tanpa disertai foto atau video. Sementara itu, laporan juga menyebutkan bahwa area di sekitar kediaman perdana menteri diperketat dengan pengamanan luar biasa, meski tidak ada penjelasan resmi dari pemerintah Israel.
Laporan yang sama turut menyinggung kemungkinan korban lain, termasuk Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir serta saudara Netanyahu, Iddo, meskipun informasi tersebut juga belum mendapat konfirmasi dari sumber independen.
Situasi semakin menimbulkan tanda tanya setelah dua utusan Amerika Serikat, Steve Witkoff dan Jared Kushner, secara mendadak membatalkan rencana kunjungan ke Israel yang sebelumnya dijadwalkan untuk membahas perkembangan perang dengan Iran. Media Israel melaporkan pembatalan tersebut tanpa penjelasan resmi, sementara pemerintah AS maupun Israel belum memberikan keterangan lebih lanjut.
Hingga saat ini, belum ada bantahan maupun klarifikasi resmi dari otoritas Israel terkait klaim yang beredar. Keheningan tersebut, ditambah pembatalan kunjungan diplomatik dan peningkatan keamanan di sekitar kediaman perdana menteri, membuat spekulasi terus berkembang di berbagai media internasional.
Konflik yang memicu situasi ini disebut bermula pada akhir Februari ketika operasi militer gabungan AS dan Israel memicu eskalasi lebih luas. Pertempuran kemudian meluas dengan keterlibatan kelompok Hezbollah di perbatasan utara Israel serta meningkatnya ketegangan dengan kelompok Houthi movement di Yaman. Hingga kini, konflik tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 2.000 orang dan menyebabkan ratusan ribu warga mengungsi.


