POSMABA.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dikabarkan tengah menyiapkan pertemuan penting dengan para pimpinan perusahaan kontraktor pertahanan terbesar di Negeri Paman Sam. Pertemuan yang dijadwalkan berlangsung di Gedung Putih pada Jumat (6/6/2026) itu disebut akan membahas langkah percepatan produksi persenjataan dalam skala besar.
Rencana tersebut muncul di tengah upaya serius Pentagon untuk kembali mengisi stok persenjataan yang dilaporkan mulai menipis. Lima narasumber yang mengetahui agenda ini menyampaikan kepada Reuters bahwa pertemuan tersebut merupakan respons atas berkurangnya cadangan senjata setelah operasi militer terhadap Iran dan sejumlah misi militer lainnya dalam beberapa waktu terakhir.
Sejumlah raksasa industri pertahanan, termasuk Lockheed Martin dan RTX—induk dari Raytheon—masuk dalam daftar undangan resmi. Para sumber yang enggan disebutkan namanya menekankan bahwa pembahasan ini berlangsung sangat tertutup karena menyangkut strategi keamanan nasional yang sensitif.
Inti pembahasan dalam forum tersebut adalah mendorong produsen senjata agar mempercepat kapasitas produksi melampaui target normal. Pemerintah AS ingin memastikan rantai pasok militer tetap aman di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Sampai kini, pihak Lockheed Martin, Pentagon, maupun Gedung Putih belum mengeluarkan pernyataan resmi. RTX juga memilih tidak memberikan komentar terkait undangan tersebut. Meski begitu, Trump melalui akun media sosialnya telah menyampaikan sinyal tegas mengenai ambisi kekuatan militer AS.
“Ada pasokan amunisi AS yang hampir tidak terbatas dan perang dapat dilakukan selamanya, dan dengan sangat sukses, hanya dengan menggunakan pasokan ini,” tulis Trump dalam unggahannya pada Senin lalu.
Desakan untuk memperkuat stok senjata semakin menguat setelah konflik di Iran disebut menghabiskan rudal jarak jauh dalam jumlah yang bahkan melampaui pengiriman bantuan senjata ke Ukraina. Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 dan operasi militer di Gaza, AS memang telah menguras cadangan persenjataan bernilai miliaran dolar untuk sistem artileri serta amunisi anti-tank.
Serangan terbaru ke Iran—yang melibatkan rudal jelajah Tomahawk, jet tempur siluman F-35, serta drone serang sekali pakai—dilaporkan menciptakan celah besar dalam stok strategis AS. Kondisi ini mendorong Wakil Menteri Pertahanan Steve Feinberg mengusulkan tambahan anggaran sebesar US$50 miliar (sekitar Rp844 triliun) guna mengganti alutsista yang telah digunakan.
Sebagai bagian dari langkah lanjutan, Raytheon selaku produsen rudal Tomahawk disebut telah menyepakati komitmen baru dengan Pentagon untuk meningkatkan produksi hingga 1.000 unit per tahun. Sebelumnya, Pentagon hanya merencanakan pembelian 57 rudal pada 2026 dengan harga rata-rata sekitar US$1,3 juta (Rp21,94 miliar) per unit.
Tak hanya fokus pada anggaran dan produksi, Trump juga mulai memperketat pengawasan terhadap industri pertahanan. Pada Januari lalu, ia menandatangani perintah eksekutif yang menargetkan kontraktor dengan kinerja dinilai buruk, terutama perusahaan yang dianggap lebih memprioritaskan pembagian keuntungan kepada pemegang saham ketimbang peningkatan produksi.
Dalam waktu dekat, Pentagon dikabarkan akan merilis daftar kontraktor berkinerja rendah tersebut. Perusahaan yang masuk daftar itu hanya diberi tenggat 15 hari untuk menyampaikan rencana perbaikan yang telah disetujui dewan direksi. Jika gagal memenuhi ketentuan, mereka berisiko menghadapi sanksi serius, mulai dari tindakan hukum hingga pemutusan kontrak secara sepihak.


